Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Cari Blog Ini

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Archive

Categories

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tags

Tags

Recent News

sidebar ads

Popular Posts

Recent Posts

3/recent/post-list

Facebook

MUHAYPEDIA

Featured

Pengangguran Sejati


Mukhtashar Shiwan al-Hikmah adalah kitab gnomologis yang berisi hampir 1000 kearifan yang ditulis dalam bentuk quote hikmah dan anekdot yang sarat makna (nawadir) dari para filsuf kuno sampai filsuf muslim abad kencana Islam. Salah satu anekdot yang sarat makna semisal kisah Platon, ketika ia ditanya tentang mungkinkah orang seperti Platon disebut pengangguran. Platon menjawab, "Mungkin saja. Jika kita dapat melakukan kebaikan kepada manusia, tapi kita tidak melakukannya."

Anekdot di atas cukup masyhur di karya-karya intelektual Muslim, seperti al-Mubasyir Ibn Fatik, Al-Amiri, Yahya al-Nadim, Abu Ma'syar al-Balkhi, dan lain-lainnya. Setiap hikmah dan anekdot dalam Mukhtashar Shiwan al-Hikmah akan selalu menarik sebuah makna radikal dalam kehidupan manusia. Seperti dalam kisah di atas, bagi Gurunya Aristoteles ini, makna pengangguran sejati adalah ketika seseorang memiliki kesempatan mengerjakan kebaikan tapi tidak melakukannya.

Pengangguran yang menjamur dewasa ini, bagi Platon, bukanlah pengangguran sejati. Karena yang disebut pengangguran adalah ketika ia tidak bisa berbuat baik selagi bisa. Jadi, bisa saja selevel presiden, PNS, pasukan militer, atau tukang becak sekalipun disebut pengangguran jikalau ia memiliki kesempatan berbuat kebaikan tapi tak kunjung menunaikannya.

Kembali ke Mukhtashar Shiwan al-Hikmah, sebuah karya yang menjadi ruang nostalgia para filosof-filosof kondang lintas zaman. Selain itu, untuk dewasa ini, karya ini ibarat cucuran air zamzam di tengah kering kerontangnya moral, kehausan dari hikmah-hikmah bajik, dan badai fitnah yang sulit terelakkan.

Membaca para filosof dulu, kita akan menemukan titik kesinambungan antara hikmah dengan perilaku dalam kehidupannya. Berbeda halnya di era milenial ini, sudah berapa banyak cendekia, ulama, dan pemikir yang kecerdasan dan pengetahuannya sebenarnya sedang sekarat merindukan titik amaliyah yang sudah mulai terlihat samar. Padahal apa guna ilmu bila sia-sia tak bermanfaat bagi diri dan sosial. Imam Ali pernah berkata, “Ilmu itu memanggil amal. Jika ia memenuhi panggilan tersebut (maka itu baik), dan jika tidak ia akan pergi.”

Beramallah selagi mampu, tebarkan kebaikan di seluruh hamparan bumi Tuhan hingga kita disibukkan dengan hal itu. Karena di situlah, sejatinya kita sudah melepas dari kerangkeng pengangguran. Ya, pengangguran sejati.

(Titik Kebajikan, Mulla G.A)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar