Top Ad

header ads
Secondary Menu
Technology/hot-posts

Must Read

3/random/post-list

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Cari Blog Ini

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Archive

Categories

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tags

Tags

Recent News

sidebar ads

Popular Posts

Pythagoras dan Amarah

Recent Posts

3/recent/post-list

Facebook

MUHAYPEDIA

Featured

Pythagoras dan Amarah


Jika kita menghitung segitiga sama kaki, maka kita akan ingat dengan istilah teorema pythagoras, sebuah rumus yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya).

Istilah teorema Pythagoras ini dinisbatkan dari nama Pythagoras, sosok filsuf di Yunani Kuna yang juga dikenal sebagai sang matematikawan tradisional. Perjalanan hidup dan ajaran Pythagoras tidaklah begitu jelas karena sosoknya sering dikait-kaitkan dengan berbagai kisah-kisah fiktif yang berkenaan dengan dirinya.

Salah satu kisahnya  juga tercatat dalam karya-karya intelektual muslim pada masa kencana Islam, semisal kisah ketika ia mengundang kawan-kawannya berkumpul untuk makan-makan di kediamannya. Tetapi saat sebentar lagi teman-temannya datang, ternyata pembantunya lupa untuk menyiapkan suguhan dan makanan yang dibutuhkan. Pythagoras tidakkah panik ketika teman-temannya mulai berdatangan satu per satu, malahan sang matematikawan ini tertawa. Pythagoras kemudian berkata, "Hari ini telah kita dapatkan hal yang lebih mulia daripada alasan pertemuan kita, yait menahan kemurkaan, menguasai kemarahan, menggenggam kesabaran, dan menghias diri dengan kelembutan."

Begitulah sosok Sang Matematikawan lagi filsuf yang namanya masih membumi hingga saat ini. Penguasaan amarah sampai mampu menggenggam kesabaran itu memerlukan pelatihan jiwa untuk stabilisasi emosi manusia. Jika kita belajar dari sosok Pythagoras di atas, kita akan memahami bahwa semestinya kecerdasan intelektual berjalan berdampingan satu arah dengan kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional adalah salah satu kecerdasan yang harus dipersiapkan dan dilatih supaya bisa stabil. Ketika turun kecerdasan emosional, semisal ketika berada pada kondisi marah. Kondisi seperti itu pastilah akan berefek buruk pada fisik, psikis, ataupun sosial.

Jika kita pahami lebih dalam, kondisi marah ini sebenarnya merupakan kondisi jebolnya gerbang jiwa sehingga segala macam keburukan bisa masuk tanpa izin dengan leluasa yang kemudian menjarah akal sehat.

Sebagaimana Rasulullah juga pernah berwasiat kepada Imam Ali tentang amarah, "Wahai Ali, jauhilah amarah karena syetan lebih leluasa menguasai manusia ketika kondisi marah."

(Titik Kebajikan, Mulla G.A.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar