Top Ad

header ads
Secondary Menu
Technology/hot-posts

Must Read

3/random/post-list

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Cari Blog Ini

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Archive

Categories

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tags

Tags

Recent News

sidebar ads

Popular Posts

Pythagoras dan Amarah

Recent Posts

3/recent/post-list

Facebook

MUHAYPEDIA

Featured

Lalu, Masihkah Kita Terusik?


Di era digital ini, manusia modern memiliki ruang untuk berekspresi bebas semaunya, tepatnya di media sosial. Ironisnya, merundung sampai mencemooh menggunakan bahasa-bahasa kasar menjadi pemandangan yang sudah lumrah di media sosial, dewasa ini.

Jika tidak membalas cemoohan tersebut, paling sering di antara sikap kita adalah bersikap apatis yang dibarengi kesadaran. "Semakin tinggi pohon maka semakin tinggi pula hembusan angin yang menerjangnya", begitulah kata pepatah yang terkadang membuat tetap teguh dan tak memperdulikan cemoohan-cemoohan dari manusia yang semestinya bukan hakim agung dari setiap kita.

Kondisi dicemooh dan dirundung seakan menjadi wajib dialami oleh orang-orang besar, semisal yang pernah dialami oleh filsuf asal Klazomenai, Ionia di Asia Kecil, Anaxagoras. Ia yang dikenal  filsuf dari mazhab pluralisme pada suatu ketika  melewati seseorang yang nakal dan sangat iseng. Seseorang itu sengaja mencaci maki serta berkata-kata tidak senonoh kepadanya, tetapi Anaxagoras lebih memilih untuk tidak memperdulikannya dan menjauhinya. Melihat tindakan Anaxagoras ini, orang-orang Yunani bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak marah atas perkataan orang itu?". Anaxagoras menjawab, "Sebab tidak aku harapkan lantunan suara merpati dari seekor gagak dan kicauan perkutut dari seekor bangau."

Anekdot tentang Anaxagoras di atas mengajarkan kepada kita untuk tetap bersikap seperti biasanya bukan malah membalasnya, karena jikalau keburukan dibalas keburukan kembali, lalu kapan keburukan itu akan usai? Lagi pula bagaimana kita harus terusik dari perkataan-perkataan yang keluar bukan dari tempat atau orang yang semestinya.

Ya, bukan dari orang semestinya, bukan  lantunan suara merpati dari seekor gagak dan kicauan perkutut yang bukan dari seekor perkutut, malahan keluar dari seekor bangau yang tidak mengerti tentang bagaimana berkicau.  Lalu, masihkah kita akan tetap terusik?

(Titik Kebajikan, Mulla G.A)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar