Pujian yang Terpuji
Muhammad Zohri, seorang atlet lari mampu membuktikan bunga-bunga Indonesia masih bisa untuk menunjukkan wewanginya yang semerbak. Hujan pujian pun turun begitu deras dari rakyat Indonesia. Tidak sedikit, pujiannya diiringi dengan cacian kepada pihak yang berkaitan. Tapi, di sini, kita akan coba perjelas bahwa setiap prestasi akan menjadi pengundang bagi hujan pujian.
Pujian menandakan ketakjuban atau kekaguman atas sebuah keunggulan yang menakjubkan. Perlu disadari, pujian memang lahir dari diri sendiri, akan tetapi mesti muncul dari lidah orang lain, bukan dari lidah sendiri. Jika lidah mampu untuk mengucap pujian atas pemiliknya, sama saja lidah itu membinasakannya. Lidah orang lain yang semestinya memiliki hak untuk memuji, malah akan menjadi sebaliknya, mencaci.
Kita tak perlu membuat justifikasi jika kita memang mesti dipuji, bagaimanapun kelayakan seseorang itu dipuji atau tidak, itu urusan di luar diri kita. Homerus sang penyair asal Yunani Kuna bernasihat, "Orang yang selalu membanggakan dirinya sendiri tidak layak untuk dipuji."
Memuji diri sendiri, sebenarnya adalah penghinaan bagi diri sendiri. Setiap torehan bagi kita yang itu adalah prestasi, hendaknya diam. Bukan berkoar-koar ibarat orang yang haus akan pujian. Malahan inilah yang akan menjadikan kita terhina. Sekalipun prestasi itu pasti dan pujian itu memang layak dan mesti. Jawaban Eudemus, murid Aristoteles layak untuk kita renungkan ketika ia ditanya, "Apa yang tidak baik diucapkan meskipun benar? Eudemus menjawab, "Ialah memuji diri sendiri."
Pujian memang hal yang maklum bagi manusia. Tetapi, jika kita dipuji sesekali kita lupa akan Sang Sebab pertama yang mesti dipuji, sebenarnya itulah hal yang terlarang lagi membinasakan selain juga akan menjerumuskan orang lalai kepada jurang-jurang Fir'auniyyah.
Seandainya, Tuhan memperlihatkan kita tentang orang-orang yang memuji dirinya sendiri maka marilah kunci rapat-rapat hati akan berburuk sangka. Terkadang berburuk sangka akan menjadikan semuanya terbalik. Bagaimanapun di balik setiap perkataan, hanya ada dua yang mengetahuinya, Sang Prima Causa dan pemilik perkataan itu sendiri. Dalam kaidah ushul fiqh diingatkan, "Maqashid al-lafdhz 'ala niyyah al-lafidzh" (Maksud setiap ucapan tergantung niat pengucap). Maka tetaplah, jangan gegabah dalam menilai sebuah pujian.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar