Mengenai Saya
Formulir Kontak
Socialize
Post Top Ad
Cari Blog Ini
Post Top Ad
Archive
Categories
Post Top Ad
Tags
Tags
Popular Posts
Recent Posts
Featured
Sia-sia
Alkisah, Abu Nawas sebagaimana para penyair lainnya, Ia tampil di hadapan Raja agar bisa mendapatkan imbalan dari Sang Raja. Syair dalam bentuk gazal (genre syair cinta) dan madh (pujian) dibacakannya dengan khusyu dan menakjubkan sehingga membuat orang-orang di sekitar raja merasa kagum, tetapi berbeda halnya dengan raja, sang raja malah tidak merasa terhibur dengan syair Abu Nawas sehingga ia pun tidak mendapatkan imbalan seperti apa yang diharapkannya. Akhirnya ia pulang dengan kekecewaan. Ketika di perjalanan pulanh, Abu Nawas melihat dua orang sedang berdebat, bukan Abu Nawas jika tidak usil, Ia pun mendekati dengan pura-pura tak mendengar apapun. Kedua orang tersebut ternyata sedang membicarakan keindahan makna puisinya yang sebelumnya dibacakan di hadapan raja. Abu Nawas pun terheran, karena baginya makna puisinya tak sedalam dan tak seindah yang mereka perdebatkan.
Kedua orang yang memperdebatkan puisi Abu Nawas tersebut jika dalam bahasa Ibn Arabi itu disebut juzburah. Maksudnya, memahami sesuatu secara berlebihan yang lepas dari makna asli yang diinginkan pembicara. Hal ini, menurut Syaikh al-Rais Ibn Arabi bahwa sikap juzburah ini sering dipraktekkan oleh manusia dalam memahami segala sesuatu dan inilah yang paling berbahaya, merusak makna dan menyesatkan bagi pendengar atau pembaca. Bagaimana tidak? Jika sebuah makna sudah dilebih-lebihkan maka tafsir-tafsir akan ngawur sehingga melahirkan fitnah dan jika itu adalah sebuah pengetahuan maka akan melahirkan kesesatan.
Memahami sesuatu mesti sesuai kadarnya, bagaimana sudut pandangnya, pada kondisi dan situasi seperti apa ia berkata, ideologi apa yang ia pegang dan masih banyak lagi yang mesti kita ketahui sebelum memahami apalagi menjustifikasi. Bukan malah main memahami dengan sewenang-wenang.
Dalam konteks kekinian, pada tahun-tahun politik ini, rakyat Indonesia meski secara sadar dan berdasar dalam memahami sampai menilai sesuatu, bukan memahami dengan nafsu ataupun dengan segala berburuk sangka apalagi dengan dasar yang sebenarnya belum fakta. Marilah berhati-hati, khawatir kita terjebak dalam jurang-jurang juzburah sebagaimana yang sudah diperingatkan Syaikh al-Rais. Nauduzu billah.
Related Posts



Tidak ada komentar:
Posting Komentar