Top Ad

header ads
Secondary Menu
Technology/hot-posts

Must Read

3/random/post-list

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Cari Blog Ini

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Archive

Categories

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tags

Tags

Recent News

sidebar ads

Popular Posts

Pythagoras dan Amarah

Recent Posts

3/recent/post-list

Facebook

MUHAYPEDIA

Featured

Memahami Iblis

Sebelum membaca tulisan ini, saya harap pembaca sudah makan dan tenang secara batin, karena tulisan ini gak jelas.
____

Iblis adalah makhluk Tuhan yang misteri setelah manusia. Ia menjadi tokoh antagonis dalam kitab-kitab suci samawi,  tetapi, dalam memahami Iblis kita perlu mengkategorikan jenis manusia menjadi tiga dalam memahami Iblis. Pertama, golongan mainstream yang menganggap Iblis sebagai genus dari kalangan jin yang menjadi musuh Tuhan sekaligus makhluk Tuhan yang paling durhaka. Kedua, golongan anti-mainstream yang beranggapan Iblis adalah sumber kekuatan sehingga menjadi wujud yang wajib disembah secara maknawi ataupun dzohiri. Ketiga, golongan anti-mainstream dari anti-mainstream yang beranggapan jika Iblis adalah makhluk Tuhan yang mulia selevel malaikat.

Mungkin banyak pertanyaan, kenapa kategori ketiga dianggap anti-mainstream dari anti-mainstream. Begini, golongan pertama dan kedua bisa dipahami karena pemahaman kedua golongan tersebut sudah mainstream di benak homo-modernus. Tapi, pemahaman golongan ketiga ini jarang sekali orang yang mencoba memahaminya selain perlu perjuangan darah hingga tetes terakhir atau dengan cara membaca karya para pemuka golongan ini yang jelimetnya nauduzu billah. Intinya, pembagian ini, asas al-taqsimnya adalah pemahaman manusia, bukan kedurhakaan kepada Tuhan.

Oke, lanjut. Di sini, pembahasan akan berfokus kepada golongan ketiga ini dengan pembahasan sesuai kemampuan penulis. Golongan ketiga ini, beranggapan jika Iblis adalah spesies yang sifatnya sudah sampai dzatiyyah Tuhan. Maksudnya, sifat Iblis sudah melebur dengan Tuhan. Kok bisa? Ya, bisa-bisain aja. Hahaha.

Begini, sifat makhluk Tuhan terbagi tiga tingkatan. Pertama, sifat hal yang berarti sifat kondisional, contohnya manusia bersifat sombong tapi terkadang ia tidak sombong dalam beberapa kondisi. Kedua, tingkatan sifat malakah yang berarti sifat sudah menjadi kepemilikan, contohnya manusia yang tadi bersifat sombong, awalnya sombong kondisional malah sifat sombongnya menjadi hak milik, artinya sifat sombong sudah melekat dalam dirinya. Nah, naik ke tingkat ketiga, yakni sifat dzatiyyah, dimana ia sudah melebur dengan sifat sombong, dirinya sudah tak dikenal- lenyap karena melebur dengan sifat sombong.

Iblis sebagai makhluk Tuhan melepas dirinya untuk melebur dengan sifat Tuhan. Sehingga golongan ini menganggap, jika Iblis adalah manifestasi Tuhan dalam sifat kesombonganNya. Ada juga di antara golongan ketiga ini berpendapat, Iblis juga disebut ayatullah (tanda-tanda Allah) untuk membuktikan sifat sombongNya.

Ada pendapat dari tetangga golongan ini yang mengamini pendapat di atas tapi ia menyanggah bahwa sayangnya Iblis hanya melebur dalam sifat kesombongan Tuhan sehingga hanya menjadi madzhar (manifestasi) Tuhan dalam kesombongan. Tenang! Golongan ini pun menyanggah balik, "bukankah sifat Tuhan sebenarnya satu lalu bergradasi," begitu katanya. Sifat apapun yang disematkan kepada Tuhan itu satu. Mudahnya begini, kita pilih satu sifat contohnya sifat maha memelihara, jika Tuhan bersifat maha memelihara pasti bersifat maha kuasa, jika Tuhan bersifat maha kuasa pasti Tuhan maha terpercaya, jika Tuhan terpercaya pasti Tuhan maha esa, dan seterusnya sampai pasti Tuhan maha sombong. Bagaimanapun Tuhan adalah maha segala-galanya. Sedangkan Iblis sudah sampai titik melebur dengan salah satu sifat Tuhan, bukankah semestinya secara langsung Iblis juga melebur pada sifat selain maha sombong? Nah, karena Iblis sudah ditugaskan sebagai manifestasi Tuhan dalam sifat maha menyesatkan dan menghinakan, maka Iblis pun mau tak mau menerima tugasnya. Berbeda halnya dengan manusia yang menjadi Ahsan al-Taqwim sehingga mampu melebur kepada sifat Tuhan yang manapun, selain itu, manusia juga mampu menjadi manifestasi Tuhan dari sifat mana pun. Begitu kata golongan ketiga dalam interpretasi penulis.

Iblis sebagai Kaka perguruan di padepokan Tuhan, ia terus bersama manusia untuk mewujudkan sifat Tuhan yang maha menyesatkan dan menghinakan dengan manusia sebagai objeknya. Iblis dengan manusia dari kalangan umum secara pengetahuan lebih pintar, ia tahu Sirah Nabawiyah dari zaman Adam as. sampai zaman Sang Proklamator Tujuh Belas Rakaat, Nabi Muhammad Saw. Jika ditanya hadits atau Al-Qur'an pun, ia lebih tahu. Karena pengetahuannya yang mendalam untuk mengecoh manusia itu terlalu mudah bagi Iblis, seandainya dalam hati manusia sendiri tidak ada keyakinan yang teguh.

Terakhir, setiap orang punya pandangan dan pandangan jangan sampai dibikin ribut sampai gotot-gototan. Begitu pula, dengan pandangan saya ini tak perlulah dibikin serius, karena belum tentu saya juga serius dalam menulis ini. Haha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar