Top Ad

header ads
Secondary Menu
Technology/hot-posts

Must Read

3/random/post-list

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Cari Blog Ini

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Archive

Categories

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tags

Tags

Recent News

sidebar ads

Popular Posts

Pythagoras dan Amarah

Recent Posts

3/recent/post-list

Facebook

MUHAYPEDIA

Featured

Diam yang Tidak didiamkan


Mogok kerja sering dilakukan para buruh sebagai bentuk pergerakan puncak setelah melakukan beberapa demonstrasi. Pergerakan semestinya yang kita tahu bukan berarti selalu dalam bentuk gerak, karena terkadang gerak yang paling puncak adalah dengan diam. Jika dalam konteks pergerakan buruh, bisa dibahasakan dengan kata "mogok kerja".

Diam sendiri sering dimaknai sebuah puncak bukan hanya dalam pergerakan tetapi dalam memahami sesuatu pun, diam adalah tingkat puncak. Sebagaimana Syams Tabriz, guru yang sangat berpengaruh bagi Jalaluddin Rumi sang mistikus besar, ia menjelaskan dalam Qowa'id al-Isyq al-Arba'un (40 Kaidah Cinta), pemahaman tingkat puncak adalah diam, karena pengetahuan tinggi terkadang tidak selesai dengan kata-kata atau tindakan untuk dijadikan bukti.

Selain itu, dalam memaknai diam, ada pentingnya, anekdot Eudemos ketika ia memandangi mayat, lalu ia berkata, "Inilah pemberi peringatan yang berteriak-teriak kepada orang-orang lalai tanpa mengeluarkan suara, menggerakkan orang-orang yang memandangnya tanpa melakukan gerakan, dan menyadarkan indra-indra walaupun dia sudah tak memiliki indra."

Maka diamnya buruh adalah bergerak. Diam dalam pengetahuan tertinggi ialah puncak. Begitu pula, diamnya mayat sejatinya bukanlah diam. Ia tetap mampu menggerakkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar